Friday, October 14, 2011

Ponzi si Raja Kupon

Ponzi, atau Charles Ponzi adalah seorang yang terkenal di dunia karena kasus penipuan uang.

Kehidupan Awal Charles Ponzi
Lahir di Lugo Italia pada 1882 dari latar belakang keluarga yang berkecukupan. Hijrah ke Amerika pada tahun 1903, mendarat di Boston dengan uang $2.5 di kantong namun dengan impian $1juta. Dengan cepat ia belajar Bahasa Inggris dan bekerja sebagai pencuci piring di sana. Namun tak lama ia dipecat saat telah menjadi seorang kasir karena mencuri.
Pada tahun 1907 Charles Ponzi pindah ke Montreal dan bekerja di Bank Banco Zarossi sebagai asisten teller dan kemudian menanjak menjadi manager. Namun ternyata Ponzi membaca bahwa bank tersebut ternyata mengalami kesulitan keuangan yang sangat parah karena saat itu sedang terjadi kelesuan di bidang pinjaman properti dan real estate. Hingga saat bank sudah tak dapat lagi memenuhi bunga 6% kepada para investornya maka bank tersebut tutup dan pemilik bank (Luigi "Louis" Zarossi) melarikan diri ke Mexico dengan membawa uang perusahaan dalam jumlah yang sangat besar, sedangkan Ponzi tetap tinggal di Montreal membantu keluarga peninggalan Zarossi.


Kesulitan yang dialaminya membuatnya harus mencari akal untuk memperbaiki keadaan hidupnya. Hingga suatu saat saat ia sedang mengunjungi Canadian Warehousing, sebuah perusahaan dari salah satu klien Zarossi yang bernama Damien Fournier, ia menemukan sebuah cek kosong dan mengisi namanya sendiri di situ. Memasukkan $423.58 lengkap beserta tanda tangan palsu pemiliknya. Aksi ini tercium oleh Polisi yang kemudian menangkapnya dan memenjarakannya selama 3 tahun di Penjara Saint Vincent de-Paul.
Pada tahun 1911 Ponzi memutuskan untuk kembali ke Amerika, namun kemudian ia ditangkap Polisi lagi oleh karena terlibat dalam kasus trafficking (perdagangan manusia). Ia menghabiskan hidupnya selama 2 tahun Penjara Atlanta.
Selepasnya dari penjara Ponzi kembali ke Boston. Di sana ia bertemu dengan Rose Maria Gnecco yang kemudian dinikahinya pada tahun 1918. Ia memulai lagi hidupnya dengan mengurusi beberapa usaha milik mertuanya.
Suatu hari Ponzi mendapat sebuah surat dari Spanyol yang menanyakan mengenai katalog bisnisnya. Namun ada hal lain yang lebih membuatnya tertarik dan belum pernah ia lihat sebelumnya, yakni sebuah International Reply Coupon (IRC) yang diselipkan di dalam amplop surat tersebut. Ia mencari tahu mengenai perihal kupon tersebut kemudian melihat suatu kelemahan dari sistemnya yang menyadarinya untuk bisa mendapati keuntungan dari hal itu. Inilah awal dari skenario besar Skema Ponzi.
International Reply Coupon (IRC) pada dasarnya mirip sekali dengan perangko balasan yang dimaksudkan agar si penerima surat dapat mengirimkan balasannya tanpa mengeluarkan biaya, namun yang membedakan adalah kupon IRC tersebut dapat ditukarkan dengan perangko dan cap dari negara tempat balasan surat berasal. Jika kupon tersebut berasal dari negara lain yang mana harga dikeluarkannya kupon lebih murah dari harga perangko dan cap di negara lain, maka sebenarnya terdapat perbedaan harga yang lalu dapat diambil keuntungan dari hal tersebut, yakni dengan membelinya dalam jumlah banyak dari negara lain lalu menjualnya lagi di Amerika. Ponzi menghitung bahwa paling tidak adanya keuntungan sebesar 400% dari sistem yang tidak sempurna tersebut.

Skema Jual Beli International Reply Coupon.
Dari peluang yang ia lihat dalam sistem IRC tersebut, Ponzi meminjam uang untuk ia kirimkan kepada keluarganya di Italy untuk membeli kupon IRC dalam jumlah besar untuk dikirimkan ke Amerika. Namun saat ia hendak menebusnya ia terganjal beberapa masalah birokrasi. Kemudian ia meminjam uang dari teman dan kerabatnya di Boston dengan janjinya bahwa ia akan memberikan keuntungan yang sangat besar, yakni 160% dalam waktu 90 hari. $1.250 menjadi $2.000.

Bisnis pembelian kupon ini berjalan mulus hingga akhirnya Ponzi melihat keuntungan yang lebih besar, yakni membayar investor lama dengan uang investor baru. Dengan janji-janji kupon emas yang  ia kemas secara berkharisma semakin banyaklah para investor yang menginginkan agar uang mereka digandakan. Kupon tinggallah janji kupon, peredaran uang yang begitu besar kini hanya permainan perputaran uang belaka, dan Ponzi menjebak dirinya di permainan yang ia buat sendiri. Sistem yang telah berjalan kemudian mengharuskan ia harus terus mencari investor untuk membayar investor yang telah masuk sebelumnya, demikian dan seterusnya. Siklus gelap ini berlangsung dengan berhasil hingga Ponzi sanggup mendirikan perusahaan yang ia beri nama Secutities Exchange Company untuk mempromosikan skema bisnisnya. 

  • Pada February 1920, ia sanggup mendapatkan dana sekitar $5.000 (setara dengan $54.000 di tahun 2008), 
  • di bulan berikutnya $30.000 (setara dengan $328.000 di tahun 2008), 
  • hingga pada bulan Mei dimana perusahaan mengembangkan agen-agennya hingga New England dan New Jersey, ia sanggup mengantongi $420.000 (setara dengan $4,59juta di tahun 2008). Bahkan ia pun mendepositokan uangnya dalam jumlah besar ke sebuah bank bernama Hanover Trust Bank of Boston hingga ia menjadi presiden di bank tersebut dan memiliki otoritas manajemen lalu mengambil keuntungan dari sistem simpan pinjam yang dilancarkannya, salah satunya adalah program 150% dalam waktu 45 hari saja.
  • pada bulan Juni, ia telah sanggup memperoleh pendapatan $250.000......... PER HARI. Itu paling tidak setara dengan $2.732.500 di tahun 2008.
Siklus keuangan yang begitu cepat ini memunculkan kecurigaan para aparat dan negara bagian hingga dilakukanlah penyelidikan mengenai pembukuan dan aliran dana terjadi di perusahaan-perusahaan milik Ponzi, hingga termuat di beberapa artikel berseri milik Boston Post. Seorang analis bernama Clarence Barron menyatakan bahwa jika memang yang ditawarkan adalah keuntungan dari perdagangan kupon IRC, namun mengapa yang harusnya terdapat peredaran160juta kupon malah hanya terdapat 27.000 yang beredar di masyarakat. Sedangkan kala itu tak ada bisnis lain yang sanggup menawarkan keuntungan dengan sedemikian besar dan sedemikian cepat, maka satu-satunya kesimpulan yang dapat diambil adalah kesemua skenario tersebut adalah murni perputaran uang dimana investor yang baru "membayar" investor yang lama. Semakin banyaknya uang yang masuk tak akan lebih besar dari jumlah hutang yang ada.


Sistem yang Ponzi lancarkan ini pula memicu munculnya banyak musuh, terutama dari bank-bank lain karena nasabah dan investor mereka menarik dana mereka dan berpindah ke perusahaan Ponzi. Tanpa adanya nasabah maka akan banyak pula bank-bank yang kemudian gulung tikar dan tutup buku. Maka secara tak langsung pula musuh-musuh dari skema Ponzi ini mendesak agar diadakannya penyelidikan dan persidangan terhadap Ponzi.

Persidangan-demi persidangan yang dihadapi Ponzi akhirnya menjatuhkannya kepada hukuman denda, pengembalian dan pembekuan dana, hingga penjara pada 1 November 1920 selama 5 tahun. Pada February 1926 ia kembali didakwa bersalah atas kasus penipuan penjualan tanah dan mengajukan banding serta memberikan obligasi seharga $1.500. Kabur dari panggilan pengadilan, ia melarikan diri ke Tampa, menggunduli rambutnya dan menumbuhi jenggot serta kumis, namun ia kembali tertangkap di New Orleans dan dikembalikan ke Massachusetts dan dijatuhi hukuman 7 tahun penjara.

Masa Akhir Ponzi.
Selepasnya dari penjara, Ponzi dideportasi kembali ke Italia karena notabene semenjak ia masuk ke Amerika hingga saat itu ia tidak pernah mengajukan diri sebagai warga negara Amerika. Dikabarkan juga bahwa di Italia ia sempat melakukan beberapa aksi skema penipuan miliknya namun tidak terlalu membuahkan hasil. Hingga suatu hari ia pindah ke Brasil, bekerja sebagai penerjemah dalam keadaan miskin dan meninggal karena sakit jantung stroke pada tahun 1948.



Sumber : 
bizop. ca/ blog2/ 000037. html

0 comments:

Post a Comment